Telapak Tangan R&D

January 1, 2007

Met Natal & Taon Baru

Filed under: Uncategorized

Merry X-Mas & Happy New Year

(Foto diambil oleh Ritha di sebuah taman di Jepang, menjelang natal 2006)

October 31, 2006

Analogi Musim Gugur

Filed under: Cerpen

 

Analogi Musim Gugur

Photos by Deny & Ritha, diambil di Omosiro Yama dan Yamadera

Cerpen by Ritha

 

"Aku tergila2 pada musim gugur. Aku tergila gila padanya… haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh…". Aku menarik napas panjaaaang sekali kemudian menghembuskannya dengan keras.

Kubiarkan ujung jari kaki ku terendam air. Dingin. Brrrr… rasanya dingiin sekali. Tapi segar. Musim gugur kali ini memang lebih dingin dari musim gugur tahun2 yg lalu. Kurapatkan cardigan, melindungi diri dari angin yg sesekali datang. Kupandangi langit, biru. Awan putih bersaput2. Di ujung sana semburat merah mulai memancar. Senja mulai datang.

Hmm… untung mulai senja, jadi kali ini sepi. Jadi hanya ada aku, air, daun2 yg berguguran, angin, dan Cintaku. Cintaku? Kemana Cintaku? "Maaaaaaas…. maaaasss!".

"Disiniiii…..!" Suaranya datang dari balik bebatuan.

"Ngapaaaaiiiiin??" Teriak, takut kalah sama suara air.

"Iyaaaa… "

He? Kok ga nyambung yah? Ya udah, biarin, paling lagi motret :D .

Kulanjutkan duduk-dudukku di tepi kali, merendam kaki, memandang langit, memandang air, memandang dedaunan yg berganti warna. Gunung di depanku tampak indah dengan dedaunan yg berganti warna. Kuning, merah, oranye, ada yg masih hijau, ada yg udah coklat. Indah, sangat indah.

Suamiku muncul dari balik bebatuan, menenteng kamera. Berbelok, melompat dari satu batu ke batu yg lain, menghindari air, menjauh dariku, dan mulai berjongkok lagi di ujung sana, memotret, entah apa yg dipotret.

Tiba2… "Selamat siaaaaaangggg!". Kaget, aku berbalik. Seseorang sudah berdiri jarak satu batu dariku.

 "Siang, eh, sore."

"Maaf mengagetkan anda."

"Eh, iya. Kaget. Ga papa." Berusaha tersenyum.

Diam hening. Orang itu pun diam menikmati alam.

"Anda suka musim gugur?" Dia memulai percakapan.

"Iya, suka. Suka sekali."

"Saya juga." Menarik napas dalam2, "Musim gugur bercerita banyak sekali."

"Ooh..". Mengangguk. Tanda mengerti? Ga juga. Basa basi aja.

Diam lagi. Dia berkacak pinggang, memandang langit, menarik napas dalam2, menghembuskan napas, kemudian duduk bersila pada batu yg dipijaknya tadi. Diam, memandang air yg mengalir deras.

"Anda tahu apa yg ingin diceritakan olehnya tentang musim gugur?"

"Olehnya? Oleh siapa?"

"Oleh yg di atas sana." Menunjuk langit.

"Ga, ga tau. Yg penting indah. Mmm.. ya mungkin keindahan itu yg ingin diceritakanNya."

"Saya juga ga tau pasti, tapi terus berpikir mungkin ini, ini maksudNya."

"Apa?" Mulai tertarik.

"Anda pernah berpikir, kenapa daun2 itu berubah warna sebelum gugur?"

"Ya, pernah. Saya kira karena suhu. Tapi seseorang bercerita karena cahaya. Bulan September-Oktober, ketika hari mulai pendek, dan malam lebih panjang, merupakan sign untuk tumbuh2an berganti warna dan kemudian gugur. Hmm.. saya ga tau pasti juga."

"Hey, anda melihatnya dari sisi Ilmu Pengetahuan Alam."

"Anda tidak?"

"Juga. Tapi lebih dari itu. Saya berpikir soal analogi musim gugur."

"Apa itu?"

"Daun berganti warna, indah, sebelum gugur. Kita, sebelum mati, sebaiknya juga memberikan kesan indah pada sekitar."

"Tapi kan, kita ga tau, kapan kita akan mati." Protesku.

"Maka, sebaiknya berikan kesan indah terus, sapa tau malam nanti anda akan meninggal."

Siapa ya, orang ini, pikirku. Mungkin pendeta dari gunung sebelah. Tapi ga botak. Hmm… ga tau, deh. Kucerna kata2nya… , "Hmmm… mungkin itu ya… kenapa banyak artis, banyak olahragawan, undur diri ketika berada di puncak kejayaannya agar orang mengenang dia terus sebagai yg terbaik."

"Ya… mungkin. Hahaha, saya bukan artis atau olahragawan hahahaha…"

"Mmm… tapi, ada banyak kasus. Orang yg berbuat baik, tapi justru dicekal, difitnah. Sampai akhirnya orang itu meninggal pun, banyak orang mengenang dia sebagai orang yg jahat. Banyak kasus seperti itu terjadi di  dunia ini. Bukankah sejarah itu tergantung siapa yg menuliskannya?" Aku melanjutkan.

"Tapi untuk Tuhan, orang baik adalah orang baik. Dia punya ukurannya sendiri."

"Anda tadi bicara soal ‘kesan’. Dalam pengertian saya ‘kesan’ berarti sesuatu yg tampak di luar oleh manusia lain. Bukan untuk Tuhan."

"Oh, maaf. Saya tidak menemukan kata2 yg pas, kalo memang kata ‘kesan’ anda anggap tidak pas." Nada suaranya tetap tenang, tidak bermaksud meng-confront aku, "Tapi intinya, berbuatlah baik sebelum kau meninggal.." . Pandangannya terus menatap air yg mengalir deras di depan kami.

"Hmmm…"

Diam lagi, hening lagi. Hanya ada suara air dan burung2 yg sesekali terbang melintas di atas sana.

"Lihat, dalam satu pohon pun, waktu berganti warna dan waktu gugur tiap daun pun berbeda2". Dia menunjuk pohon terdekat, japanese maple. Daunnya ada yg udah sebagian oranye sebagian lagi masih hijau, ada yg oranye semuanya, oranye dengan bintik merah, atau merah semuanya. "Indah semuanya kan?" Dia melanjutkan, "Yah… coba kalo di musim gugur, semua daun berganti warna di saat bersamaan, kemudian gugur di saat bersamaan, mungkin musim gugur tak akan seindah ini."

"Iya…" kataku lirih. Kehabisan kata2…

"Yah, daun saja diberi kesempatan memberikan keindahan dengan caranya sendiri2. Tentu kita juga. Kita masing2, diberi kesempatan memberikan keindahan pada dunia, sesuai kapasitas kita masing masing, sesuai talent kita masing-masing. Tiap orang. Walaupun berasal dari satu ayah dan ibu, talent kita, jalan hidup kita berbeda, dan di situlah kita diberi kesempatan memberikan keindahan pada dunia sebelum kita wafat."

Deg. "Ya Tuhan, Kau berusaha menyindir aku melalui orang ini?" Pikirku sedih… Aku merenung. Menunduk. Memandang air, batu, apa sajalah, yg bisa kupandangi untuk mengalihkan perhatianku.

"Ya! Sampai jumpa ya! Makasih bincang-bincangnya. Maaf sudah mengganggu hari libur anda! Bye bye.." Dia berlalu, sambil melambaikan satu tangannya, tanpa melihat ke arahku. Aku melihat punggungnya berlalu… kemudian berbelok di balik bebatuan sana.

"Eh, iya… iya… bye, bye", lirih, lirih sekali, dia pasti tak mendengarnya.

"Sayaaaaaaaang, aku dapat banyak foto bagus lho. Ke sana yok? Ada air terjun yg lebih gede lho, di sana. Sayang? Hallo…? Kamu kenapa?" Suamiku heran melihatku.

"Eh, apah? Air terjun? Mana?"

"Kamu kenapa? Ih, ga kesambet kan?"

"Eh, ituh, orang itu, tadi, yg ngobrol sama aku…"

"Orang mana?" Suamiku mengerutkan dahinya sambil menatap bingung ke arahku, terus melihat ke sekitar mencari ‘orang’ yg kumaksud.

"He?" Suamiku yg keasyikan motret sampe ga tau ada yg ngobrol sama aku, atau emang orang tadi  sebenernya bukan ‘orang’? Aku ga berani nanya.

"Eh, iya, air terjun? Eh, dimana?" Kataku sambil siap2 berdiri. Gamang.

"Di sana, cuman 3 menit, jalannya. Ayok, bagus deh, kamu pasti suka!" Suamiku merangkulku. Aku mengikuti suamiku, sambil pikiranku berkecamuk ttg pembicaraanku dengan orang asing itu. Tuhan, maksudMu….

September 26, 2006

Warna-warni Fauna

Filed under: Fauna

Gbr 1. Hanya Dia yg mendandaninya

 

Gbr2. Yg garang pun bisa tampil anteng :)

 

Gbr3. Kawaii

 

Gbr4. Tampil Bareng :)

 

Ttg Foto: Foto diambil oleh Deny, di kebun binatang Yagiyama, musim panas 2006

September 24, 2006

Farewell Party

Filed under: Keseharian

Gb1. UZK

 

Dinner at UZK, Umai ZushiKan. Ber 14 orang :) . Farewell Party. To KF: Selamat dah melompati satu tahap. Ikut sueneeng dan legaaa. Utk tahap selanjutnya, buD n pakD ucapin: Selamat Berjoeang, nak! :). Hiks,  Berkurang lagi deh 1 KS :( :( . Tapi KF, dirimu kan tak jauh2 toh, pindahnya. Masih bisa kan, berkunjung2 ke Sendai lagi :).

To MV: Seneng dah kenal MV selama di Sendai. Selamat berjoeang nerusin yg di negri londo sono :) . Kehilangan temen diskusi fotografi, tapi masih ada email, Jeng. Keep in touch ya! :)

Gbr 2. Anyaman

Ini dinner judulnya, tapi ga ada foto hidangannya. Mulai makan jam stg 9. Huaaa.. dah laper, jd lebih baik melahap ketimbang memotret. Motret2nya setelah kenyang :) . Makan sushi dan sashimi. Ituh, gbr 2, malah motret anyaman penghias sushi nya. Sushi nya dah abisss. Enak, bener enak. KF emang oye kalo milih tempat makan.

BTW, ituh, pas kampai, tangan sapa tuh, yg mendominasi foto. Kikikik.. MD, katanya lagi sakit, tapi teuteup… :D .

Gbr 3. Kampaaaaiiiii…!

September 9, 2006

Aoba Matsuri, Sendai (Summer 2006)

Filed under: Matsuri

Gbr 1. When is my turn to dance?

 

Photos from about 2 months ago :) . Ini foto2 dari Aoba Matsuri (Festival Aoba) di Sendai, Jepang, musim panas 2006. Musim panas biasanya ditandai dengan banyak festival. Nantikan liputan berikutnya! ;)

 

Gbr 2. Hallo Mbak.. Nanti foto saya ditaruh di blog ya?

 

Gbr 4. Women in yellow

 

Gbr 5. Age doesn´t matter

 

Gbr 7. Colorful day

 

 

Gbr 9. I get tanned easily in summer…

Gbr 10. Dancing, dancing and.. dancing

Gbr 11. Kakkoyokunai, Ore?

Gbr 8. Otsukaresama deshita..

Masih dari musim semi April lalu

Filed under: Bunga

Gbr 1. Bunga ungu, cakep ya?

Gbr 2. See my pretty face?

Sakura

Filed under: Bunga

Cerita dari musim semi tak pernah habis. Musim semi lalu, kami hanami (hana = bunga, mi = melihat). Ke Oogawara yg ditanami 1000 pohon sakura. Sepanjang jalan isinya sakuraaaa melulu. Indah.

Gambar2 dan gambar4 di posting yg berjudul "Bunga2 Musim Semi", disebut sakura juga sih. Aku taunya karena pas lagi aku ngambil foto bunga2 itu, ada ibu2, mm .. nenek2 sih, tepatnya.. :) , nyamperin aku dan menjelaskan, itu bunga nya peach (momo, kalo bahasa jepang, Gbr4, maksudnya), disebut sakura. Padahal setahu aku sakura itu adalah cherry blossom, bunganya buah sakurambo(cherry nya Jepang). Ya yg aku tampilin ini. Ternyata peach blossom disebut sakura juga.

May 18, 2006

Bunga2 Musim Semi

Filed under: Bunga

Gbr1. Si Kuning yg pertama kali menyapaku di awal musim semi tahun ini

April, awal musim semi. Bunga2 kuning itu tiba2 muncul. Si Ungu pun ikut muncul. Malu2. Masih terkantuk kantuk :) . Mereka berdua terbangun paling awal dari panjangnya musim dingin, kemudian menepuk2 pipiku. Mataku terbelalak… ,"Ahhhhh.. musim semi…! Hh, terimakasih Tuhan.. terimakasih..". Tersenyum. Kuhirup udara dalam2. Sisa-sisa dingin masih menyusup dalam udara ke paru2ku.. . Tak apa, tak apa…yg terpenting, lihatlah… bunga2 itu satu per satu mulai bermekaran. Indah, segar, sejuk :) . Hmmm… Tuhan, Kau berikan keindahan, diantara kerutnya wajah, dan penuhnya kepala!

 

Gbr2. Bergantungan pada langit yg biru

 

Meresapi udara yg masuk ke paru2, aku mulai bermenung. Ya, bermenung di sela2 langkah kaki ku.. di sela2 kertas dan meja kerjaku.. di sela2 sayur, pisau, buah2an di dapurku.. di sela2 tempat tidurku. Aku bermenung… panjaaaang. Betapa bunga2 itu analogi dariku, darimu, darinya.. dari kita.

Kawan, coba, coba amatilah, bunga2 di sekelilingmu, amati. Kau akan melihat wajahmu disana, wajahnya, wajahku, wajah semua kita. Wajah dunia. Dan wajahNya. Kau akan merasakan bahwa Dia ada bersamamu.

Kupikir.. ini semua adalah sapaanNya. Kalau tidak, pasti tak ‘kan ada permenungan ini. Waha! Masih juga kau cari jauh2 sapaanNya? Kau bangun pagi dengan udara segar menyusup, itu kan sapaanNya… ;) .

Sebenarnya, permenungan itu lebih dalam dari yg dapat kubeberkan padamu, kawan. Tapi, aku masih berada di dalamnya, dan aku takut kehilangan esensinya, kalau sekarang kubeberkan padamu. Maaf kan aku kawan.. . Tapi … sst… coba… lihatlah mereka di sini, lihat mereka di sekitarmu.. dan kau akan menemukannya sendiri.

Gbr3. Berbaris menyambut hangatnya mentari

 

Gbr4. Keindahan karangan bunga dariNya

 

Gbr5. Bercakap-cakap

 

Gbr6. Segala sesuatu indah pada waktuNya

Gbr7. Kesejukan hijau putih

Gbr8. Menunggu dalam keindahan yg sendiri

Gbr9. Iyaaaa… musim semmmiii, Riiiith..! Musim Semi! Lihatlah kami..! Musim semi kaaan?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham