
Analogi Musim Gugur
Photos by Deny & Ritha, diambil di Omosiro Yama dan Yamadera
Cerpen by Ritha
"Aku tergila2 pada musim gugur. Aku tergila gila padanya… haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh…". Aku menarik napas panjaaaang sekali kemudian menghembuskannya dengan keras.
Kubiarkan ujung jari kaki ku terendam air. Dingin. Brrrr… rasanya dingiin sekali. Tapi segar. Musim gugur kali ini memang lebih dingin dari musim gugur tahun2 yg lalu. Kurapatkan cardigan, melindungi diri dari angin yg sesekali datang. Kupandangi langit, biru. Awan putih bersaput2. Di ujung sana semburat merah mulai memancar. Senja mulai datang.
Hmm… untung mulai senja, jadi kali ini sepi. Jadi hanya ada aku, air, daun2 yg berguguran, angin, dan Cintaku. Cintaku? Kemana Cintaku? "Maaaaaaas…. maaaasss!".
"Disiniiii…..!" Suaranya datang dari balik bebatuan.
"Ngapaaaaiiiiin??" Teriak, takut kalah sama suara air.
"Iyaaaa… "
He? Kok ga nyambung yah? Ya udah, biarin, paling lagi motret
.
Kulanjutkan duduk-dudukku di tepi kali, merendam kaki, memandang langit, memandang air, memandang dedaunan yg berganti warna. Gunung di depanku tampak indah dengan dedaunan yg berganti warna. Kuning, merah, oranye, ada yg masih hijau, ada yg udah coklat. Indah, sangat indah.
Suamiku muncul dari balik bebatuan, menenteng kamera. Berbelok, melompat dari satu batu ke batu yg lain, menghindari air, menjauh dariku, dan mulai berjongkok lagi di ujung sana, memotret, entah apa yg dipotret.

Tiba2… "Selamat siaaaaaangggg!". Kaget, aku berbalik. Seseorang sudah berdiri jarak satu batu dariku.
"Siang, eh, sore."
"Maaf mengagetkan anda."
"Eh, iya. Kaget. Ga papa." Berusaha tersenyum.
Diam hening. Orang itu pun diam menikmati alam.
"Anda suka musim gugur?" Dia memulai percakapan.
"Iya, suka. Suka sekali."
"Saya juga." Menarik napas dalam2, "Musim gugur bercerita banyak sekali."
"Ooh..". Mengangguk. Tanda mengerti? Ga juga. Basa basi aja.
Diam lagi. Dia berkacak pinggang, memandang langit, menarik napas dalam2, menghembuskan napas, kemudian duduk bersila pada batu yg dipijaknya tadi. Diam, memandang air yg mengalir deras.
"Anda tahu apa yg ingin diceritakan olehnya tentang musim gugur?"
"Olehnya? Oleh siapa?"
"Oleh yg di atas sana." Menunjuk langit.
"Ga, ga tau. Yg penting indah. Mmm.. ya mungkin keindahan itu yg ingin diceritakanNya."
"Saya juga ga tau pasti, tapi terus berpikir mungkin ini, ini maksudNya."
"Apa?" Mulai tertarik.
"Anda pernah berpikir, kenapa daun2 itu berubah warna sebelum gugur?"
"Ya, pernah. Saya kira karena suhu. Tapi seseorang bercerita karena cahaya. Bulan September-Oktober, ketika hari mulai pendek, dan malam lebih panjang, merupakan sign untuk tumbuh2an berganti warna dan kemudian gugur. Hmm.. saya ga tau pasti juga."
"Hey, anda melihatnya dari sisi Ilmu Pengetahuan Alam."
"Anda tidak?"
"Juga. Tapi lebih dari itu. Saya berpikir soal analogi musim gugur."
"Apa itu?"
"Daun berganti warna, indah, sebelum gugur. Kita, sebelum mati, sebaiknya juga memberikan kesan indah pada sekitar."
"Tapi kan, kita ga tau, kapan kita akan mati." Protesku.
"Maka, sebaiknya berikan kesan indah terus, sapa tau malam nanti anda akan meninggal."
Siapa ya, orang ini, pikirku. Mungkin pendeta dari gunung sebelah. Tapi ga botak. Hmm… ga tau, deh. Kucerna kata2nya… , "Hmmm… mungkin itu ya… kenapa banyak artis, banyak olahragawan, undur diri ketika berada di puncak kejayaannya agar orang mengenang dia terus sebagai yg terbaik."
"Ya… mungkin. Hahaha, saya bukan artis atau olahragawan hahahaha…"
"Mmm… tapi, ada banyak kasus. Orang yg berbuat baik, tapi justru dicekal, difitnah. Sampai akhirnya orang itu meninggal pun, banyak orang mengenang dia sebagai orang yg jahat. Banyak kasus seperti itu terjadi di dunia ini. Bukankah sejarah itu tergantung siapa yg menuliskannya?" Aku melanjutkan.
"Tapi untuk Tuhan, orang baik adalah orang baik. Dia punya ukurannya sendiri."
"Anda tadi bicara soal ‘kesan’. Dalam pengertian saya ‘kesan’ berarti sesuatu yg tampak di luar oleh manusia lain. Bukan untuk Tuhan."
"Oh, maaf. Saya tidak menemukan kata2 yg pas, kalo memang kata ‘kesan’ anda anggap tidak pas." Nada suaranya tetap tenang, tidak bermaksud meng-confront aku, "Tapi intinya, berbuatlah baik sebelum kau meninggal.." . Pandangannya terus menatap air yg mengalir deras di depan kami.
"Hmmm…"
Diam lagi, hening lagi. Hanya ada suara air dan burung2 yg sesekali terbang melintas di atas sana.
"Lihat, dalam satu pohon pun, waktu berganti warna dan waktu gugur tiap daun pun berbeda2". Dia menunjuk pohon terdekat, japanese maple. Daunnya ada yg udah sebagian oranye sebagian lagi masih hijau, ada yg oranye semuanya, oranye dengan bintik merah, atau merah semuanya. "Indah semuanya kan?" Dia melanjutkan, "Yah… coba kalo di musim gugur, semua daun berganti warna di saat bersamaan, kemudian gugur di saat bersamaan, mungkin musim gugur tak akan seindah ini."
"Iya…" kataku lirih. Kehabisan kata2…
"Yah, daun saja diberi kesempatan memberikan keindahan dengan caranya sendiri2. Tentu kita juga. Kita masing2, diberi kesempatan memberikan keindahan pada dunia, sesuai kapasitas kita masing masing, sesuai talent kita masing-masing. Tiap orang. Walaupun berasal dari satu ayah dan ibu, talent kita, jalan hidup kita berbeda, dan di situlah kita diberi kesempatan memberikan keindahan pada dunia sebelum kita wafat."
Deg. "Ya Tuhan, Kau berusaha menyindir aku melalui orang ini?" Pikirku sedih… Aku merenung. Menunduk. Memandang air, batu, apa sajalah, yg bisa kupandangi untuk mengalihkan perhatianku.
"Ya! Sampai jumpa ya! Makasih bincang-bincangnya. Maaf sudah mengganggu hari libur anda! Bye bye.." Dia berlalu, sambil melambaikan satu tangannya, tanpa melihat ke arahku. Aku melihat punggungnya berlalu… kemudian berbelok di balik bebatuan sana.
"Eh, iya… iya… bye, bye", lirih, lirih sekali, dia pasti tak mendengarnya.

"Sayaaaaaaaang, aku dapat banyak foto bagus lho. Ke sana yok? Ada air terjun yg lebih gede lho, di sana. Sayang? Hallo…? Kamu kenapa?" Suamiku heran melihatku.
"Eh, apah? Air terjun? Mana?"
"Kamu kenapa? Ih, ga kesambet kan?"
"Eh, ituh, orang itu, tadi, yg ngobrol sama aku…"
"Orang mana?" Suamiku mengerutkan dahinya sambil menatap bingung ke arahku, terus melihat ke sekitar mencari ‘orang’ yg kumaksud.
"He?" Suamiku yg keasyikan motret sampe ga tau ada yg ngobrol sama aku, atau emang orang tadi sebenernya bukan ‘orang’? Aku ga berani nanya.
"Eh, iya, air terjun? Eh, dimana?" Kataku sambil siap2 berdiri. Gamang.
"Di sana, cuman 3 menit, jalannya. Ayok, bagus deh, kamu pasti suka!" Suamiku merangkulku. Aku mengikuti suamiku, sambil pikiranku berkecamuk ttg pembicaraanku dengan orang asing itu. Tuhan, maksudMu….